Postingan

Menampilkan postingan dengan label fiction

CINTA ITU NGGAK ADA : Esittely

“Cinta memang pengorban, tetapi biarkan orang lain yang melihat pengorbanan itu.  Jika kita sudah mulai merasa berkorban untuk sesuatu/ seseorang yang kita cintai, saat itulah kita sudah mulai berhenti untuk mencintai.” -Sujiwo Tedjo- Tuk! Tuk! Tuk!  Suara ketukan di meja tempatnya tertidur membangunkan Dini dengan tiba-tiba. Dini mendongak. Ia melihat laki-laki tinggi berkacamata tersenyum jenaka padanya. Dini melenguh saat melihat siapa yang membuatnya terjaga dan kembali menaruh kepalanya di atas meja. “Din! Ifan udah pernah cerita belum pas UAS semester lalu dia nginep disini untuk belajar karena rumahnya lagi di renovasi?” Dante duduk di kursi kosong di depan meja tempat Dini merebahkan kembali kepalanya. “Nggak. Kenapa?” Tanya Dini tanpa mengangkat kepalanya dari meja. Rasa kantuk menyerang dirinya dengan luar biasa. “Tadinya dia mau nginep disini, tapi dia nggak jadi nginep disini dan akhirnya nginep di kosan gue. Lo tau nggak kenapa?” “Kenapa?” Din...

Proposal (2)

Mereka menghabiskan malam terakhir mereka di Jogja dengan bermalam di Malioboro. Sesuai dengan rencana Edith. Ia bahkan sudah booking online hotel di sekitar sana sejak dari Jakarta, sementara pasangan baru yang norak itu hanya mengikuti kemanapun Edith pergi. Oh, bukankah mereka ke Jogja untuk berbulan madu? Kenapa sekarang mereka malah menjadi penguntit setia Edith? Edith tersenyum melihat pasangan norak itu bernyanyi dan sesekali bergoyang mengikuti irama lagu yang dipersembahkan musisi jalanan Malioboro. Tidak buruk juga menghabiskan tiga hari di Jogja bersama mereka. Setidaknya dengan keceriaan yang mereka bawa, Edith kembali menjadi   perempuan berusia akhir duapuluhan yang masih penuh semangat bukan seperti nenek-nenek yang sudah bosan hidup dan tinggal menunggu mati. “Kopi?” Seseorang meyodorkan sekaleng kopi dingin di depan wajah Edith. Edith mendongak. Jiwo? Dia masih disini? Edith mengambil kopi yang disodorkan Jiwo namun tidak bisa menyembunyikan wajah te...

Proposal

Gilang duduk sambil mengatur nafasnya. Sesekali ia meminum air mineral dari botol di tangan   kanannya. Karin menatapnya mengejek, “Elo belum menang. Ayo, main lagi!” Katanya sambil men-dribble bola basket dengan tangan kanannya. Gilang hanya melambai mendengar ejekan Karin, “Gua capek.” Karin duduk di sebelah Gilang dan mengambil botol minuman Gilang dengan kasar dan menenggaknya. “Katanya laki-laki lebih kuat dari cewek?” Karin masih mengejek. “Ya, ceweknya jangan guru olahraga juga.” Gilang merebut kembali botol minumnya. “Guru olahraga kan juga cewek.” Karin terus mengejek. “Iya, cewek setengah cowok.” Sahut Gilang kesal.                                            “Yah, makanya kan kita nyambung. Elo kan cowok setengah cewek.” Karin nyengir. Memp...