Postingan

Menampilkan postingan dengan label love story

Tetaplah Menari

Gambar
Kamu... Menggenggam tanganku Menarikku lembut dalam pelukanmu Menuntun kakiku untuk melangkah Satu langkah ke depan Satu langkah ke belakang Perlahan-lahan... Berulang-ulang... Hingga kita terbiasa Hingga kita seirama Dan kita menikmatinya Kita menari Kita berdansa Dalam gelap yang pekat... Kamu tersenyum... Aku menangis... Kita tetap menari Kita tetap berdansa Dalam bahagiamu, dalam tangisku Dalam diam... Kamu berkata, "Tetaplah menari meski gelap, meski pekat Nanti gelap itu akan pergi dengan sendirinya Tanpa kita sadari Karena kita asyik menari Tetaplah menari meski hujanmu tak menghadirkan pelangi Karena pelangi akan datang dengan sendirinya Tanpa kita sadari Karena kita asyik menari Tetaplah menari meski tak ada seorangpun yang peduli Karena mereka tetap tidak akan peduli Dan kita tetap asyik menari Apapun yang terjadi, menarilah! Menarilah bersamaku Dan jangan pernah berhenti" Aku...

Love Song

"Here it is." Gilang handed a can of coffee to Karin. Karin smiles. "And don't sing that song!" Karin laughed, "Why?" "Then why you keep singing that song when I give you a cup of coffee?" Karin still laughed, "A cup? It is a can." Gilang rolled his eyes, "Whatever." "Why you keep complaining then?" "I just...get jealous of that coffee and tea. You always singing that you love them when you meet them. And you don't sing any song when you meet me." Karin laughed louder and start singing. I love coffee, I love tea I love the java jive and it loves me Coffee and tea and the java and me A cup, a cup, a cup, a cup, a cup! "Stop it! It's annoying you know!" Karin keep continuing singing her song I love java sweet and hot Oops, Mr. Gilang I'm a coffee pot Shoot me the pot and I'll pour me the pot A cup, a cup, a cup, a cup, a cup* 1 "Stop, please!" Karin...

Dialog Lala & Arya part. 1

"Karena aku udah beda, Lala." Tanpa sayang. Biasanya Arya selalu menambahkan kata itu setelah ia menyebutkan nama Lala. Hal ini membuat hati Lala sedikit sakit. Yah, dia memang sudah berbeda. Hanya dalam hitungan satu minggu. "Apanya yang beda? Masalahnya? Kenapa kamu jadi sepesimis ini sih? Setiap orang yang masih bernafas pasti punya masalah. Hadapi saja dan nggak perlu meninggalkan yang sudah ada." Lala tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki di depannya. "Mimpinya. Aku udah nggak punya tujuan hidup lagi sekarang selain membuat Ibu bertahan lebih lama. Sedangkan kamu? Aku nggak mau mimpi kamu hancur." "Ada apa dengan mimpiku? Selama ini mimpi kita emang beda kan? Cuma kita saling dukung untuk mengejar mimpi kita. Kalo itu yang sekarang jadi mimpi kamu. Ya udah. Jalanin aja dan jangan paksa aku untuk pergi dari hidup kamu." Arya menghela nafas. Seandainya ia masih memiliki optimisme dan semangat yang dimiliki Lala, "Kondisinya...

Broken Lover

Arya menatap Lala dengan tatapan intens yang tak bisa diartikan oleh Lala. Lala hanya melihat gurat kesedihan dibalik tatapan cinta di sana. Seperti terlalu banyak yang ingin dia utarakan dengan matanya. Seperti berharap bahwa Lala akan mengerti semuanya dengan hanya menatapnya. Dan sialnya, Lala bukan cenayang yang bisa membaca apapun yang ada di hati Arya melalui sorot matanya. “Kenapa?” Tanya Lala kalut. Sebenarnya ia bukan tidak tahu sama sekali dengan apa yang terjadi. Hubungan mereka memburuk, itu yang Lala rasakan. Dan ia tidak tahu apakah Arya masih menyimpan cinta yang sama di hatinya. Bahkan dengan tatapan intens itu Lala tak mampu menebaknya.